No image available for this title

Perspektif Yuridis Viktimologis Terhadap KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga)



CATAHU 2018 menunjukkan hal yang baru, berdasarkan laporan kekerasan di ranah privat/personal yang diterima mitra pengadalayanan, terdapat angka kekerasan terhadap anak perempuan yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.227 kasus. Sementara angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama yakni 5.167 kasus. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui dan menganalisis Analisis Yuridis tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Untuk mengetahui dan menganalisis Analisis Viktimologis terhadap korban kejahatan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Penelitian ini bersifat deskriftif analitis dengan metode pendekatan yuridis normatif. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data adalah studi pustaka atau studi literature. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode kualitatif.
Dari hasil analisis Yuridis bahwa dalam menjatuhkan pidana, harus berpedoman pada Undang-Undang yang tertulis, hal ini diperjelas oleh asas legalitas (Principles of Legality). Karena untuk menjatuhkan pidana pada seseorang, dikenal asas yang berbunyi:”tidak dipidana jika tidak ada kesalahan”. Dalam bahasa Belanda: Green straf zonder schuld. Jadi dalam hal ini harus dibuktikan dulu ada atau tidaknya kesalahan seseorang. Hal ini berkaitan dengan masalah dapat dipertanggungjawabkannya seseorang atas perbuatan yang telah dilakukan. Jadi, mengenai criminal responsibility. Adapun bentuk kesalahan ada dua, yaitu kesengajaan dan kealpaan. “Kesengajaan” dilakukan dengan dilandasi adanya “niat” untuk menentukan suatu perbuatan pidana. Sedangkan dalam “kealpaan” tidak terdapat unsur “niat” tersebut. Dari Hasil analisis dengan menggunakan teori ekonomi dan teori psykologi ada kemungkinan orang atau pelaku sampai melakukan perbuatan kekerasan dalam rumah tangga disebabkan ekonominya jadi permasalahan bagi si isteri / korban kdrt, bisa juga dari faktor psykologinya baik pelaku / korban kdrt. Selanjutnya dari teori lingkungan masalah orang tua dan saudara baik dari pihak suami ataupun isteri apalagi jika masih satu atap dengan orang tua tersebut hal ini bisa jadi sebagai pemicu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga tersebut sehingga menimbulkan pertengkaran yang berujung pada KDRT. Viktimologi yang ontologinya pengetahuan tentang korban kejahatan, secara khusus mempelajari hubungan dan atau interaksi antara korban dan pelaku kejahatan. Jadi titik eksplanasinya sangat menekankan pada peran korban kejahatan dalam hal terjadinya suatu kejahatan, sehingga bagaimana proses terjadinya korban kejahatan’ yang disebut dengan “viktimisasi”.


Detail Information

Statement of Responsibility
Description
-
Publisher STHB : Bandung.,
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Content Type
Master Theses

File Attachment